Uncategorized

Tsakian Saryana Tehnix

Sebelum saya mulai khotbah kata pada posting kali ini akan saya buka dengan quote indah hasil googling

‚ÄúHidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah.‚ÄĚ – Dewi Lestari

Zaky dan Saya di Braga 2010
Zaky dan Saya di Braga 2010

Kira-kira kalimat itu mewakili perasaan saya¬†ketika melihat seorang kawan mempersembahkan hasil karya akhir¬†akademis selama 2 jam lebih. Siapa yang menyangka sosok Tsakian — Zakian¬†dengan bahasa bamsut, guru kami dulu di SMA — sekarang bisa berbicara di depan pubic (red: publik). Walau tempo berbicara¬†terlalu cepat, tapi berdasarkan pengamatan¬†hal tersebut merupakan¬†improvement¬†besar semenjak saya terakhir lihat presentasi di bangku SMA : menjelaskan hal tidak¬†relevan¬†dengan volume sangat kecil,¬†sound stage sempit. Seratus delapan puluh¬†derajat ketika berbicara¬†normal, dan ketika kata kotor¬†keluar headroom semakin tinggi.

Iki piala opo ya ler?
Iki piala opo ya ler?

Kami bertemu di bangku SMA di kelas high cost – low impact¬†bersama dengan manusia – manusia¬†‘gagal internasyonel’, dengan TOEFL yang katanya diatas 500 semua, namun usut punya usut rata-rata masih dibawah angka 490. Sepanjang 5 semester ia disibukkan dengan game, komik, bokep dan¬†luckily¬†he’s good at photography. And if there is a list called¬†Teacher’s Enemy List, i believe he’s gonna be at first place. Bukan karena¬†perkelahian maupun hal klise kehidupan gang SMA di Jogja, namun lebih menyakiti batin dan rohani dengan berbagai faktor x.

Contoh seperti ketika guru matematika memberi soal di papan tulis dan satu kelas harus menyelesaikannya ketika ia kembali dari rapat. Ketika semua mencoba soal itu, ia santai dengan hahahihi, dan inilah yang terjadi:

“Sudah semua? Loh Zaky kowe ngopo?”

“Iya buk nganggur, gak ada kerjaan”

Lha kuwi opo nang papan tulis! *!&^%@! ” (Itu apa di papan tulis!)

Lalu bagaimana masalah percintaan? Nol tentunya! Kala itu sayapun juga gagal, namun percayalah bahwa saya mending karena ia belum pernah pacaran. Walau banter game tapi Zaky bukan tipe ansos berdiam diri dan tidak berkata-kata. Zaky sudah 17 kali¬†menyatakan cinta ke seorang wanita, namun¬†GAGAL.¬†Oh bukan ya? Maaf itu ceritanya Said “Jooooorkon” Harjuna (Zakian, 2013)

Ini tahun 2008 see his failure?

Tujuh tahun kemudian

Calon Keluarga Bahagia Siap Rabi Katanya
Calon Keluarga Bahagia Siap Rabi Katanya

SETELAH 20 TAHUN AKHIRNYA GAK JOMBLO

Pagi tadi saya lihat sidangnya full selama 2 jam.¬†He talked way too fast, just like what i wrote before, but that’s fine. Overall bagus dan tepat sasaran, tapi yang disayangkan hanya pertanyaan dosen yang terlalu melebar hingga konteksnya menjadi ke-sosial-an. Memang penelitian yang digarapnya untuk menjawab masalah sosial, tapi pertanyaan cenderung¬†diatas¬†kapasitas mahasiswa sains undergraduate. ¬†Ya yang penting lulus dan merupakan kehormatan tersendiri bisa melihat dan menemani prosesi sidang AS-Sholeh mu, zak.

Kiri Lulus, Kanan Bulus
Kiri Lulus, Kanan Bulus

Setelah melalui masa-masa kelam sepertinya Zaky¬†semakin cerah dan bahagia. Saya yang sekarang merasa kelam remang-remang turut bahagia dan senang karena dia lulus lebih cepat¬†diantara ‘produk gagal’ lain. Lha wong pas pertama kali tahu punya pacar — sama-sama dari kelas gagal lagi — saya bahagia, apa lagi lulus.

Pesan buatmu jek :

Tulisan ini dibuat untuk mengeksploitasi dirimu, diriku dan diri yang merasa dieksploitasi, seperti mas sed’ joooorkon. Saat berkarir pastikan kamu mengeksploitasi dirimu sendiri dan sekitarmu, niscaya perusahaan sayang kamu.

Tapi tahu gak alasan kenapa saya hanya kasih bunga via googling?  Bunga ketika selebrasi sidang adalah bentuk eksploitasi kekayaan alam yang berlebihan. Ingat, tugas pentingmu sebagai engineer adalah membuat lingkungan menjadi sustainable. Bunga adalah aset penting, sama seperti keluarga.

Maka imbangilah antara eksploitasi diri dan kepuasan diri dengan orang terdekat. Wes ngono tok kata-kata sok bijak ku.

———————————————————–

Catatan : Nek ngomongke aset, tianshi kuwi tai. Berdasarkan persamaan akuntansi kuwi bukan aset, tapi modal.

Uncategorized

Mengapa Almamater Kurang Penting Bagi Saya?

Saya masih ingat ketika pertama kali di ospek di SMA harus mengafal mars sekolah, dibentak karena tidak hafal, dan mentaati peraturan yang ada. Di akhir ospek, panitia ospek¬†berkata “Kami lakukan ini buat kalian semua! Tau gak?”. mereka tunduk dan melakukan push up masal. Semua berkata “Duh jangan mbak”, ada yang nangis, sedih dll. Dalam bisikan kecil,¬†saya hanya berkata, “Nuwun yo le, haha” (Terima kasih ya nak, haha).

Pasca ospek, rekan-rekan saya¬†kekeuh bahwa ospek membuat mereka semakin solid dan akrab. Menambah jiwa gotong royong dan semangat sekolah. Membumbungkan tinggi nama dan citra sekolah yang berdampak kepada bangsa dan negara (katanya). Maklum, sekolah saya suka ‘membumbung setinggi-tingginya seperti burung’.

Apakah cara tersebut dapat membuat saya hidup sebagaimana saya mestinya? Tidak sama sekali

Walaupun band jelata saya terlahir di SMA, namun yang terjadi malah kontra dengan ideologi sekolah dan siswa di dalamnya, bahkan juga kontra dengan perguruan tinggi. Dukungan nyata dari institusi inipun tidak ada, secara materi, moral maupun edukasi.

Karena hal diatas, saya akan sedikit cerita mengapa urusan band harus dipisah dengan urusan institusi yang kita masuki.

————————————————————

Story 1:

Kejadian ini merupakan kejadian pertama yang membuat saya pikir almamater sucks, dan juga membuat saya sadar akan pentingnya list rider dan MoU.

Tahun 2011 pasca kami rilis EP, ketika saya baru saja lulus SMA, dedek-dedek kelas di SMA saya membuat pensi dan mengundang band jelata saya sebagai salah satu pengisi. Tanpa kontrak, kami tepat waktu menghadiri ceksound, kami 2 jam lebih awal datang ke venue untuk melihat potensi makhluk-makhluk muda.

Tiba-tiba ada yang menghampiri saya dan berkata, “Mas mau gak jadi juri kompetisi band? Karena Pak… (salah satu guru) belum datang”. Memang selain penampil utama juga ada kompetisi band internal. Saya bilang “Oke, masih selo kok”, waktu itu dengan rekan band saya. Saya masih ga masalah karena memang dengan niatan tulus membantu

Selang satu jam pasca menjadi juri kami naik ke stage.¬†Sebelumnya ada arahan dari panitia bahwa kami¬†bisa membawakan 4 lagu. Belum sampai lagu ke-3,¬†perform kami di cut karena terlalu lama. What? kami cuma 4 menit per-lagu and we’re not even a post rock band!. Then i said “Okay, whatever.”.

Jauh sebelum acara kami bilang kalau kami butuh satu transport untuk memulangkan angkut alat-alat band. Kami minta transport tersebut standby setelah kami selesai perform. Namun yang terjadi adalah transport alat tidak jelas. Saya beri kelonggaran hingga jam 8 malam. Akhirnya baru jam 11.30 pm datang ke venue.

Adakah hal yang terjadi diantara jam 08.00-11.30? Ada. Saya marah-marah ke panitia (which adik kelas saya) dengan kata-kata, “Asu koe, bajingan!”, saya lempar kursi dan menginjak-injak sampai hancur, pintu engsel saya rusak dan tentunya dalam hati masih¬†sumpah serapah. Bahkan saat saya nulis ini, saya masih mau kata-katain itu ke semua panitia.

Story 2:

Suatu hari teman saya Tono secara tidak sengaja menghampiri saya di meja burjo dekat area kos-kosan kampus mahal di Jogja. Ia¬†bercerita tentang acara yang akan dibuatnya dengan himpunan mahasiswa¬†jurusannya. Acara ini selain dananya cukup oke dan konsep bagus, guest star cukup menarik massa. Secara finansial, batin dan spotlight bagus buat band jelata saya.¬† “Kalau kamu (band saya) dengan anak-anak lain (beberapa band lain) xx juta cukup kan?”, katanya¬†dengan semangat menggebu-gebu. Sebagai wakil band dan teman Tono yang baik hati, sayapun juga memberikan jasa konsultasi gratis mengenai acaranya, dengan harapan band jelata saya dengan band teman lain ikut main.

Setulus apapun¬†kamu memberikan konsultasi, pada akhirnya buntung juga. Karena tidak ada konfirmasi, sayapun menghubungi dia. “Piye sido ra?” (Gimana? jadi gak?), tanya saya. “Wah¬†sorry, dana mepet.”. Afterwards, dia menjauh dari saya dan sayapun sedikit tidak peduli.

Tono juga “satu almamater” dengan saya.

————————————————————

Momen inilah yang membuat saya tidak mau main Gratis di SMA saya, SMA lain, maupun Institusi pendidikan, swasta, pemerintah apapun itu. Ketika kamu disuruh membawakan lagu yang diciptakan secara tidak mudah, disuruh menjadi juri dengan imbalan hanya transport alat dan itu telat, dan gak dibayar karena atas nama almamater? Lalu apa fungsi almamater? Apalah persaudaraan ketika kamu tidak ada omongan yang melegakan hati? Tanpa konfirmasi langung bilang no?

Ini bukan masalah ‘teman satu sekolah’, seperjuangan dan senioritas. Ini norma, tata krama dan professionalisme. Toh setelah di ospek dan lulus mereka juga ga akrab, makin jauh dan makin sibuk, sama seperti saya.

Lantas mengapa band jelata saya harus dibayar? Sekiranya mas-mas FSTVLST sudah menjelaskan pada tautan ini.

Saya selalu bilang kepada rekan-rekan bahwa band jelata saya adalah band santai, seneng-seneng aja, ga perlu diambil pusing. “Kok santai dan buat seneng-seneng kalian¬†harus dibayar baru main?”, kata teman saya. Selama 5 tahun bergelut, band jelata saya dapat menghasilkan nominal dana yang tak terduga, dan selama 5 tahun itu saya sama tidak¬†pernah meraup dana tersebut¬†untuk kepentingan pribadi.¬†Dana tersebut kami¬†alokasikan ke alat-alat baru, maintenance alat lama, rekan-rekan crew dan sound engineer yang pernah bekerja dengan band jelata ini. Terutama alat instrumen dan perangkat lain, karena kami (dan saya yakin band lain)¬†menghabiskan puluhan hingga ratusan juta untuk itu. Walaupun pernyataan itu tidak abadi, but¬†that’s how we get fun.

Ini berlaku untuk event institusi, beda perlakuannya sama komunitas non-akademik.

Ketika ada himpunan mahasiswa membuat acara, entah ticketing maupun non-ticketing, profitable maupun charity, secara teknis mereka memiliki tujuan utama :¬†menaikkan citra¬†institusi tersebut. Kami juga punya tujuan : untuk bersenang-senang lagi dan lagi. Sehingga ketika ada teman yang minta kami main gratis di acara institusi, saya selalu menjawab, “Tulis namamu di poster publikasi, contoh : ‘Tono Martono Mempersembahkan Charity Concert’, tanpa ada embel-embel UGM (ups… kesebut), tanpa tiket. Kami akan datang secara sukarela.”

Uncategorized

Feels Like I Wrote Nothing

Setahun setelah Answer Sheet merilis Chapter I : Istas Promenade, saya masih bisa menulis lagu. Hingga hari ini sudah bisa dijadikan 2 album kalau semua lagu itu selesai. Mengapa?

  • Banyaknya referensi musik baru masuk bikin saya mikir lagu yang saya buat mirip lagu si ini atau si itu.¬†Walau¬†opini teman berkata lain, its just not right. Lalu saya ga¬†menyelesaikan lagunya.
  • Disaat kami merekam Istas, kami tidak tahu masalah sound, apalagi acoustic. Setelah sekarang mulai tahu karakter masing-masing, instead of making new album i prefer to re-record istas.
  • Saya punya kesibukan lain yang saya rasa lebih urgent di Pelem Ukulele, keluarga,¬†pacaran maupun kampus.

Anyway, itu semua ga penting. Yang penting adalah, sound-nya J Mascis itu enak sekali. Kasar tapi enak, dan bikin kaya gitu susah!

Uncategorized

6 Alasan Tidak Pilih Capres No.1 Tanpa Menyinggung HAM dan Tragedi Mei 1998

Tulisan ini merupakan sedikit update version mengenai status facebook saya.

 

Ga nyambung sama postingannya sih hehe
Ga nyambung sama postingannya sih hehe

Beberapa waktu yang lalu saya menulis status panjang di Facebook mengenai alasan mengapa hak pilih saya tidak saya gunakan untuk pasangan capres dan cawapres no 1. Untuk pertama kalinya dalam sepanjang sejarah hidup saya berbicara mengenai politik.

Saya tidak tertarik dengan politik walaupun waktu test psikologi di SMA saya cocok masuk jurusan hubungan internasional maupun ilmu politik lain. Hanya kebodohan dari salah satu pasangan dan kehendak Tuhan yang membuat saya menulis ini.

Kita semua sebagai pemilih yang baik di tanggal 9 Juli 2014 nanti tentunya sudah menyaksikan lima episode debat presidensial walaupun tidak semuanya dilihat. Sayapun tidak melihat debat ketiga yang waktu itu membahas tentang pertahanan negara. Menurut saya rangkaian debat ini adalah sebuah media utama yang valid bagi pengguna hak pilih dalam menentukan pilihannya. Tidak adanya intervensi media pendukung capres meupakan alasan utama mengapa debat ini penting untuk disaksikan.

Debat harus disaksikan full-length, kalau cuma highlight media bisa terjadi communication gap antara realita yang terjadi dengan pemirsa.

Menurut saya hasil dalam rangkaian debat kali ini bukan untuk mengetahui visi misi presiden secara jelas, akan tetapi debat ini lebih¬†untuk menunjukkan¬†pasangan capres dan cawapres mana yang lebih bodoh.¬†I didn’t expect this, sungguh. Tapi itulah yang terjadi pada saat debat, terjadi kesenjangan level jawaban.

Saya sebagai generation y yang tahu (tapi tidak merasakan peliknya) kerusuhan Mei 98 serta penculikan di tahun sebelumnya tidak akan membahas masalah tersebut. Saya hanya ingat kalau kakek saya yang pensiunan militer (Marsda AU bintang 2) menyuruh keluarga di Jogja untuk stay di rumah. Biarlah berbagai sumber yang berbicara Mei 98 seperti Agum Gumelar yang berbicara mengenai pemecatan (ya pemecatan) Post-Obwo, Wiranto yang menjawab respon Post-obwo pada debat pertama, dan Prof. Hermawan Sulistyo mengemukakan investigasi kasus 98 sekaligus ketidak disiplinan Post-obwo menghajar SBY ketika masih sama-sama di Akmil (dulu AKABRI). Track record itu penting, dan jika ia punya kesalahan seharusnya klarifikasi sendiri, karena hanya dia yang tahu.

Tidak bisa dipungkiri bahwa saya pernah berpikiran untuk mendukung Post-obwo sebagai presiden. Keraguan saya mulai muncul ketika pada video pidatonya kepada pengguna facebook yang diunggah di akun page-nya. Dalam pidato itu saya tidak tahu apa yang dia katakan. Dia berbicara tidak tenang (melihat jempolnya yang berubah dan bergerak terus), point masalah yang tidak jelas dan tidak ada maksudnya (masih ngawang), dan cara berbicara yang seperti orang marah (tidak bisa dianggap sebagai cara berbicara yang tegas).

“Tegas itu bukan berarti main pukul, bukan berarti main tendang, bukan berarti main lempar asbak, bukan berarti main tembak. Tapi tegas itu harus dalam koridor hukum.” – Agum Gumelar

Keraguan tersebut terjawab ketika debat presidensial pertama, ketika jawaban dari Post-obwo keluar satu persatu. Jawaban-jawabannya ngawang  dan tidak ada solusi yang bisa diimplementasikan. Kalaupun ada jawaban yang implementatif, jawaban tersebut belum solutif.

Dan keyakinan saya pada capres No.2 baru ada ketika debat terakhir. Jokowi tampil baik dan (akhirnya) berani membantah lawannya dengan logis. Tidak seperti biasanya, Post-obwo berkeringat sangat deras, padahal seharusnya kondisi studio yang dingin dapat mengurangi gemrobyos itu.

Kira-kira status facebook saya seperti dibawah ini:

1. Dari debat pertama hingga terakhir, Post-obwo masih kekeuh soal perubahan hutan ke lahan pangan, padahal kita semua tahu kalau alat musik kebanyakan dibuat dari kayu berumur ratusan tahun. Saya sebagai orang yang cukup memperhatikan kayu berpendapat bahwa seharusnya hutan diobati dengan cara ditanami kayu kembali. Ini diperkuat ketika WALHI memberikan statement yang serupa. Masalah ini krusial, saya susah dapat kayu bagus eksotis nan langka untuk ukulele, sungguh.

Dari debat terakhir ia berbicara seolah mayoritas warga hutan sekitar merupakan penyebab kerusakan hutan. Padahal hutan dirusak oleh perusahaan pengeruk SDA, dimana hutan itu dijaga oleh Menteri Kehutanan dari PAN, Zulkifli Hasan. Artinya deal-deal-an ada sama menteri kita semua ini. Kalian harus liat statement Zulkifli mengenai hutan disini (bonus harrison ford)

Saya tidak mau presiden kita punya kebijakan sebodoh itu. Saya tidak mau Zulkifli atau antek PAN lanjut jadi menteri. Anak cucu kita tidak akan melihat gitar maupun mebel dari kayu lagi jika mereka terpilih. Pembenahan hutan harus dilakukan sekarang, kapan lagi? Pak Post-Obwo aja bilang sendiri hehe. This is just ridiculous, need hundreds of year to have a nice sounding wood but they prefer to eat for theirs more.

Hal diatas adalah contoh nyata mengapa kita harus memperhatikan tokoh-tokoh dalam koalisi masing-masing capres.

2. Salah satu senjata Timses Post-obwo adalah mengagungkan sikap Post-obwo yang setuju terhadap jawaban Jokowi, termasuk menyalami Jokowi saat debat kedua ketika menjawab masalah ekonomi kreatif. Satu hal yang saya tahu: tidak ada debat presidensial yang saling setuju. Jika salah satu setuju, yang setuju tersebut mengaku kalah, atau memang tidak punya program untuk masalah yg dibahas. Kalian bisa lihat video debat Obama vs Romney pada periode pemilu US lalu

Capres nomor 1 ini saya akui memiliki positioning yang baik untuk segmen orang tua dan orang yang tidak kritis. Image tegas keras tanpa mengurangi hormat lawan dengan cara salaman di tengah debat salah satunya. Ini seharusnya tidak terjadi kalau Post-obwo tahu yang akan ia perbuat kepada pelaku ekonomi kreatif. Ini seharusnya tidak terjadi kalau melihat debar Obama VS Romney tadi, termasuk chant dan yel-yel kedua timses yang saya anggap cukup sampah.

3. Terkait point nomor dua, ada yang janggal ketika program Post-obwo 1M satu desa dikeluarkan. Ini juga sudah dibahas di debat bahwa angka yang benar +- 1,4M tergantung jumlah penduduk dan luas desa. Dan yang menarik, program ini sudah digodog oleh pemerintahan SBY dalam UU Desa dan akan diimplementasikan tidak lama lagi. Pertanyaan: Apakah itu program orisinil Prabowo?

Teman saya Deva kemudian comment di status saya dan kasih link website Budiman Sudjatmiko, anggota DPR dari PDI-P. Dalam situs itu terdapat sosialisasi lengkap tentang UU Desa.

4. Dalam debat final, Jokowi tanya soal harga sapi tinggi yang mencapai angka 120rb/kg. Post-obwo¬†menjawab bahwa sapi di Indonesia sudah mencukupi kebutuhan, hanya saja cara membawa sapi dari (katakanlah) daerah timur lebih sulit daripada impor dari Australia. Kemudian ia menambahkan solusi: meningkatkan produksi sapi. Janggal? Ya. Sebelumnya ia menjawab ‘sapi di Indonesia sudah cukup’, itu mengindikasikan bahwa produksi sapi sudah cukup. Lalu¬†mengapa harus ditambah?. Jika masalah ‘membawa dari Timur’ itu susah, harusnya ia menjawab: meningkatkan kinerja distribusi¬†sapi, bukan produksi. It’s different things. Saya ga mau presiden kita nantinya tidak bisa membedakan 2 kata ini.

5. Jokowi menanggapi masalah perlindungan SDA dapat dilakukan ketika menstabilkan antara kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan. Post-obwo menjawab dengan meningkatkan pendidikan. Tidak salah, akan tetapi dalam lapangan sebenarnya terbalik. Saya percaya bahwa tujuan pendidikan di berbagai disiplin ilmu, terutama di Indonesia adalah untuk melakukan eksploitasi SDA namun bisa juga merambah jadi eksploitasi SDM. Kita lihat kebanyakan mahasiswa yang lulus akan langsung mencari pekerjaan dengan upah besar di perusahaan multinasional dengan konsekuensi lingkungan rusak. Artinya: jika ingin melindungi SDA, maka pelaku pendidikan (mahasiswa) tersebutlah yang harus diarahkan untuk meminimalisasi eksploitasi, bukan menggenjot pendidikan lagi. Toh pendidikan disini juga tidak seburuk itu.

6. Saya lihat poster Post-obwo Haittakata dengan kalimat ‘HAPUSKAN SISTEM OUTSOURCING’. Ini sungguh langkah bodoh.¬†Dalam UU Tenaga Kerja mengenai outsourcing, ada 5 jasa yang diperbolehkan yaitu cleaning service, keamanan, transportasi, katering, dan pemborongan pertambangan. Saya tidak menjelaskan semua tetapi ini Ini logikanya:

Kalian yang rajin ke mall dan pakai kendaraan pasti akan melihat logo perusahaan penyedia sistem keamanan dan kebersihan, seperi ISS (Ambarukmo Plaza, Jogja). ISS itu tentunya bukan bentukan manajemen mall, akan tetapi ISS adalah perusahaan lain. Perusahaan tersebut antara lain menyediakan satpam, sistem parkir, sistem keamanan untuk pengunjung mall, dan cleaning service mall beserta alat yang dibutuhkan dalam maintenance mall. Perusahaan ini tentunya juga sudah berpengalaman dalam menangani hal ini dan menyediakan jasa kepada manajemen mall secara maksimal.

Jika Outsoircing tidak ada, maka perusahaan ISS tutup usaha. Manajemen mall punya PR lebih: harus melatih satpam beserta sistem rekrut satpam, membangun sistem parkir termasuk software beserta database pengunjung yang parkir, membeli peralatan keamanan. Jika hal tersebut dilakukan sendiri oleh pihak manajemen mall, hasilnya tidak akan optimal karena manajemen mall juga harus memikirkan hal lain yang berkaitan dengan pengelolaan mall lainnya seperti relationship dengan tenant, media, warga sekitar, promotion, 4P STP, SWOT (ahhh syudahlah).

Pertanyaan: Apakah pihak manajemen mall bisa melatih satpam dan cleaning service? Padahal pihak manajemen tidak memiliki background dalam hal tersebut. Jika memang bisa, apakah ini merupakan langkah efektif dan efisien yang diambil? Tentu tidak. Terlepas dari masalah kesejahteraan buruh, outsourcing dari perusahaan lain akan lebih murah dan irit waktu.

———–

Saya mengkritik bukan berdasarkan track record ya, ingat, tidak ada kata HAM, 98, Penculikan, maupun Amin Rais yang menyatakan bahwa ia bilang tidak pernah berstatement ‘Hukumkan Prabowo’, maupun hal pribadi seperti ia mualaf atau masalah post-obwo punya,maaf, penis atau enggak hheeee. Kalau masalah itu malah panjang. It’s up to you. But you might reconsider after i wrote this ūüôā

Jika ada sanggahan silakan comment dibawah!

 

Uncategorized

You’re In Love With A Girl Who Really Knows You Exist

Ide tulisan ini terpikirkan ketika menginjakan kaki di Jogja setelah menghadiri pernikahan kawan baik kami, Arkham dan Sarra, di Bekasi. Saya menulis ini karena mungkin kami yang di Jogja akan tidak melihat pasangan ini dalam waktu 2 tahun (paling cepat). Selain itu, dalam video testimoni pernikahan, saya dengan Sekar berbicara terlalu datar dan terkesan meaningless, (maav y mz mb hhe) karena kami kurang menyiapkan bahan apa yang harus diomongkan dalam video tersebut. Padahal banyak hal yang asik untuk dipaparkan lho.

IMG-20131218-WA0004

Semoga dengan adanya tulisan ini, kalian berdua bahagia.

How i met Arkham & Sarra

Waktu itu 26 Desember 2010. Answer Sheet mengunggah rilisan digital untuk pertama kalinya via SEA INDIE. Keesokan harinya, ada notifikasi friend request facebook dari ‘Ark Kurniadi’. Profile ini tidak seperti para alayans facebook users, jadi saya accept hehe.¬†Setelah kepo, saya jadi tahu kalau Mas Ark ini ternyata manager band Brilliant At Breakfast, dimana waktu itu (honestly) saya ga tahu apa-apa soal Breakfast.¬†Dengan jiwa sok kenal, sok tahu sayapun meninggalkan pesan Facebook, “Oh Mas Ark managernya Brilliant At Breakfast ya? Wah bagus itu, saya suka!”, (not yet, omg i hate to say this).

FYI, because of him and Paperplane Records (Mumu & friends), Answer Sheet’s debut album is exist (thanks to Senjahari too, muah). Because of him, saya jadi tahu keindahan Sarah Records dkk. Because of him, we got some monumental gigs. Because of him, we knows a lil bit about jogja (that has a bit) scene. I never thought that he is going to pull us this far. And i never thought that he’s going to marry her (Sarra).

Saya ingat waktu itu Sarra berada di pojok gedung Villa Van Resink di Kaliurang dalam gig Summer Is Over di tahun 2012. Ia masih malu walau akrab dengan wanita-wanita indies lainnya (ceileh indis). Walau kenal dan saling follow di Twitter, kami tidak terlalu dekat sampai akhirnya salah satu teman saya, sebut saja Bunga Kemarau (BK, Burger King) menjadi kekasihnya. Sarra jadi lebih sering ke Jogja (daripada si BK, parah), dan kalau senggang saya kadang ikut dengan mereka.

Hubungan merekapun berakhir, BK pun sering curhat ke saya. Salah satu curhatan BK adalah seperti ini:

“Sebenernya Sarra itu (pertama kali) ke Jogja karena tertarik sama Arkham.”

Setelah mereka bubar, Sarra masih sering ke Jogja. Entah ini adalah sebuah kebetulan atau tidak, tapi setiap Sarra ke Jogja pasti nonton Answer Sheet perform, mungkin hampir ga pernah absen. Bahkan Sarra juga rela jauh-jauh dari Bekasi ke Jakarta hanya untuk nonton Answer Sheet, pulang nyaris dini hari naik taksi.

Trivia (saya suka trivia gara-gara Outerbeat)

  • Arkham pernah sharing ge-galau-an dengan saya, salah satunya soal pernikahan. “Kriteria menantu dari Ibu ya yang penting harus se-iman dan berjilbab. Aku udah harus nurutin ini dan tidak ingin mengecewakan ibu”, katanya dengan sedikit tidak yakin dengan wanita berjilbab. Tapi kenyataanya sekarang, Arkham mendapatkan wanita yang seutuhnya : se-iman, berjilbab, great music taste, suka JKT48, match.
  • BK pernah bilang ke saya kalau Arkham sedang galau, ia mengambil gitar dan menyanyikan¬†“I’m In Love With A Girl Who Doesn’t Know I Exist” dari Another Sunny Day. Entah ini benar atau tidak, tapi sepertinya cukup masuk akal :p

Terduganya Hal yang Tidak Terduga

Waktu berjalan sangat cepat, Arkham yang saya kenal perlahan berubah menjadi lebih jernih dan dewasa. Terasa sekali setelah lulus akademis dan menjadi dokter, ia benar-benar memikirkan untuk harus segera menikah. Di waktu yang bersamaan, JKT48 sedang berada di atas permukaan. Mulailah ia bertransformasi menjadi om-om yang butuh kasih sayang dedek-dedek.

Semesta bersama mereka. Dari sudut lain, Sarra datang membawa pencerahan ilmu per-idol-an untuk Arkham. Intensitas posting mereka jauh lebih banyak dari sebelumnya. Well, mostly tentang dunia idol, tetapi tak jarang juga mereka melancarkan sinyal-sinyal alien yang tidak kita semua ketahui. Saya pun tidak bisa menyimpulkan pasti bahwa mereka ada hubungan khusus …….. hingga akhirnya malam itu datang.

Saya dan Sekar sampai di sebuah cafe, Arkham sudah duduk disana. Dia sedang gundah karena selama itu dia selalu yang memulai pembicaraan dengan Sarra, sebaliknya belum pernah. Sekar-pun mengeluarkan tarot, membacanya dan memberikan saran untuknya. Beberapa detik setelah saran dibacakan, secara tidak terduga, Sarra menelpon Arkham. “Oke, sepertinya hal yang aku takutin udah selesai”, responnya menanggapi. Itu bagi saya adalah mukjizat yang datang ke Arkham.

Saya tidak terlalu kaget kalau mereka itu sedang ada hubungan, tapi kok bisa dari yang tadinya sama BK jadi sama Arkham!

(sorry BK, no offense)

The Announcement

Sesuai dengan video diatas, grup “Teman Makan Sian666” pun ramai di Whatsapp. Announcement pernikahan mereka di depan kami membuat kaget kami semua, kecuali saya dan (mungkin) Sekar. Walau tidak kaget namun kami berdua sangat bahagia dengan kabar baik ini. Ya, siapa yang tidak bahagia kalau ada teman yang menikah? Tak terkecuali BK walau dalam waktu bersamaan bersenandung “I’m In Love With A Girl Who Doesn’t Know I Exist”.

Kemudian, grup tersebut berubah menjadi “Weddin666 Committee”

The Wedding

Pasangan Baru dan Romgongan dari Jogja
Pasangan Baru dan Romgongan dari Jogja

Kami rombongan dari Jogja datang ke Bekasi jam 1 pagi. Saya dan Sekar membawa perlatan perang kami (ukulele) karena kami bertugas menjadi pengiring manten dengan lagu heits indie(a) 24/7. Ini menjadi perjalanan jauh pertama saya dengan Sekar, dan ini sungguh menyenangkan!

Keesokan harinya, saya melihat Arkham dan Sarra di atas panggung manten dalam busana merah merona yang menyejukkan mata. Sungguh bahagia rasanya, dan jika dilanjutkan saya akan menangis terharu. Untung saja, prasmanan di bagian kanan membuat saya menoleh beberapa detik, sehingga tidak jadi mengeluarkan air mata. Sungguh, pernikahan Arkham & Sarra adalah salah satu event tak terlupakan dalam hidup saya, setelah sebelumnya saya rasakan serupa di konser Deftones.

Saya dan Sekar bergegas ke dekat sound system kemudian menyanyikan beberapa lagu yang tidak umum untuk dinyanyikan dalam sebuah acara resepsi lokal seperti “Vapour Trail”, “Tram #7 To Heaven”, “Where The Good Ones Go”, ” Moon River” dsb. Kami juga menyanyikan “Strawberry V” dari Brilliant at Breakfast dan “Malas” dari Summer In Vienna” Set waktu itu tidak tentu, kadang saya nyanyi berdua, kadang saya nyanyi sendiri. Ya kami berdua main buruk dalam resepsi teman, hehe (maaf ark dan sra). Tapi setidaknya kami senang dan agak sombong dikit karena bisa memundurkan prahara resepsi pasangan muda twee-idolish, yaitu the one and only kesukaan warga Bekasi, The Songbook of Dangdut Koplo.

Kami Menyanyikan Strawberry V (foto oleh @markucal)
Kami Menyanyikan Strawberry V (foto oleh @markucal)

Salah satu lagu yang saya nyanyikan sendiri adalah¬†“I’m In Love With A Girl Who Doesn’t Know I Exist”. Memang, ini lagu galau, dan orang yang tahu lagu ini¬†(termasuk kedua mempelai)¬† akan heran ketika lagu galau ngenes dibawakan disaat yang bahagia. Lagu ini saya mainkan dengan harapan ini jadi terakhir kalinya Arkham mendengar lagu tersebut, dan sadar akhirnya satu wanita yang dia inginkan tahu kalau dia itu ada, yaitu Sarra.¬†Selain lagu tersebut, saya sebenarnya juga ingin membawakan “Martir” dari Kapsul (tapi ga nemu lirik-nya) dan “Canada” dari The Field Mice (lagu galau dari Arkham yang ditujukan untuk saya, ketika jomblo).

Penutup

Saya, Sekar dan semuanya akan selalu mendoakan yang terbaik buat Arkham dan Sarra. Semoga kami dapat melihat Arkham Jr yang ganteng seperti ayahnya dan baik hati seperti ibunya. Terima kasih Arkham yang sudah mampir di kehidupan saya selama 3,5 tahun ini, maaf jika ada kesalahan yang saya perbuat. Terima kasih Sarra sudah merelakan waktu untuk nonton saya dan kawan-kawan, it means a lot! BK bertamu tapi tak menunggumu (HALAH). I will always remember

SRA//ARK, karya Azam Raharjo (http://www.azamraharjo.com/)
SRA//ARK, karya Azam Raharjo (http://www.azamraharjo.com/)

Uncategorized

12 Best Tracks Of 2013

Image

Saya tidak akan bilang list album, tapi list lagu terbaik. Jadi selamat menikmati!

DOWNLOAD HERE

TRACKLIST
1. Biffy Clyro ‚Äď Different People (‚ÄúOpposites‚ÄĚ, 2013, 14th Floor Records)

2. John Frusciante ‚Äď Same (‚ÄúOutsides‚ÄĚ, 2013, Record Collections)

3. Ducktails ‚Äď Under Cover (‚ÄúThe Flower Lane‚ÄĚ, Domino Records)

4. The World Is A Beautiful Place And I‚Äôm No Longer Afraid To Die ‚Äď Heartbeat In The Brain (‚ÄúWhenever, If Ever‚ÄĚ, 2013, Topshelf Records)

5. Volcano Choir ‚Äď Comrade (‚ÄúRepave‚ÄĚ, 2013, Jagjaguwar)

6. Marble Sounds ‚Äď Photographs (‚ÄúDear Me, Look Up‚ÄĚ, 2013, Zeal Records)

7. Ghost ‚Äď If You Have Ghost, Roky Erickson Cover (‚ÄúIf You Have Ghost EP‚ÄĚ, 2013, Republic)

8. The Dodos ‚Äď Destroyer (‚ÄúCarrier‚ÄĚ, 2013, Polyvinyl Record Co.)

9. Kishi Bashi РPhilosophize In It! Chemicalize With It! (“Philosophize In It! Chemicalize With It!, 2013)

10. Jacob Borshard & Laura K ‚Äď About Us (ePop032, 2013, Ear Drums Pop)

11. Yuck ‚Äď Somewhere (‚ÄúGlow & Behold‚ÄĚ, 2013, Fat Possum)

12. Beach Fossils ‚Äď Sleep Apnea (‚ÄúClash The Truth), 2013, Captured Tracks)