Uncategorized

Block Party : Jenny Menjadi Festivalist & Kejutan Dari Bottlesmoker (Gigsplay)


Hari minggu pagi adalah hari paling baik untuk jogging di pagi hari. Atau mungkin beres – beres kamar kost yang berantakan. Tapi jika hari minggu kemarin Anda mengendarai kendaraan atau berjalan di Jalan Affandi (Gejayan) dari arah utara ke selatan , Anda akan menemukan sesuatu yang menarik saat anda menolehkan wajah anda ke kiri. Apakah hanya pasar malam biasa? Atau miniatur Warped tour? Bukan, ini Block Party. Kecil tapi berbahaya : 1 jalan, 8 venue, 60 performers. Setidaknya kalimat itulah yang dapat menggambarkan secara umum rangkaian acara Block Party ini.

Ramai? Tentu. Mulai dari remaja ababil,alay,hipsters,poseur,menengah keatas,preps semuanya berkumpul di satu event. Entah itu beli baju atau melihat band yang tampil.

Macet? Pasti. Hal ini jarang sekali terjadi di Jogja. Khususnya jalan sekecil Jalan Cendrawasih. Apalagi kata “macet” bukan kultur orang Jogja dalam menjalani rutinitas. Jalan kecil diisi 60 band dengan 8 venue yang berbeda.Lalu ada berapa spectators yang menyaksikan shownya? You do the math.

Pukul 11 siang, Saya dan teman- teman saya mencoba jalan – jalan sekitar. Menyusuri dari ujung yang satu ke ujung lainya di Jalan Cendrawasih sama dengan refreshing kuping. Berjalan beberapa meter, dari arah kiri ada musik cadas ala Carnifex. Tambah beberapa meter lagi ada DJ yang memainkan Dubstep ala Skrillex dari arah kanan. Dilanjutkan hip – hop sekitar 10 meter dari venue sebelumnya, hampir semua jenis musik ada di event ini.

Dari 8 venue yang ada, di siang itu kita memutuskan untuk nongkrong di venue depan Seven Soul. Karena kebetulan malamnya Saya dan teman – teman juga ikut “meramaikan” venue di depan Seven soul ini. Ditambah lagi kehadiran duo asal kota kembang, Bottlesmoker yang sudah ditunggu selama ini.

Kurang lebih ada 16 Band yang meramakan venue ini. Bisa dibilang stage ini “milik” Common People, Komunitas Indie Pop Jogja. Siang itu diramaikan oleh nama – nama lokal yang cukup dikenal seperti Kapsul, My Dear are Enemy, Me & The Dirty Girl, The Harrison, Lazy Room, Angina, dan lain lain. Ditutup dengan performance apik dari Lampukota.

Sehabis magrhib venue mulai dipenuhi kembali. Amplifier dipanaskan oleh Answer Sheet. Lalu dilanjutkan oleh supergroup lokal bernama Skandal, Female fronted Indie Rock bernama Suddenly Sunday,dan post-punk group bernama Heinrich Manuver. Tapi intinya dari band -band yang sudah tampil dari pagi sampai malam,semuanya tampil maksimal. Apalagi dengan sound system yang baik.

Beralih ke stage berikutnya dimana jauh lebih besar dan tinggi. Dari jauh tampak ada kain besar bertuliskan “FSTVLST” yang menutupi bagian depan stage. Musik rock dimainkan. Ke-4 personil membayangi kain yang ada didepan dengan lightning kontras yang merefleksikan cahaya ke bagian depan. Ditambah sound yang nyaris sempurna kemudian menjadi kaget ketika mereka memainkan lagu dari Jenny.

Ternyata mereka memang Jenny yang berganti nama menjadi Festivalist. Dan kain putih itu diturunkan,terlihat wajah yang sama. Walau ganti nama,saya rasa tidak ada penurunan dari mereka. Bahkan menurut saya kharisma mereka di panggung tambah tinggi,seiring bertambahnya animo penonton yang ikut meramaikan suasana. “Mati Muda” dimainkan dengan versi yang sedikit berbeda malam itu. Ditutup dengan “Manifesto Postmodernisme”, tahu apa artinya? Spit is everywhere. Seperti biasa (bahkan lebih banyak) air liur berterbangan dimana – mana sebagai tanda kegilaan mereka.

Kembali ke Seven Soul de Arcade. Bottlesmoker siap dengan alat – alatnya,dan siap dengan topi beruang mereka. Sangat ramai. Sampai – sampai penonton harus ada yang merelakan sebagian tubuhnya melihat performa dari seberang jalan. Walaupun jiwa mereka tetap ditinggal di dekat panggung. Dari jauh tampak venue yang lebih gemerlap dari venue lainya. Dengan inisiatif dan dorong sana sini.

Dan musikpun dimainkan. Inilah pertama kalinya saya melihat performance Bottlesmoker. Saya rasa ada yang beda ketika saya mengamati audience Bottlesmoker dengan audience band lainya. Yang beda adalah 3 macam respon yang kontras terlihat dari audience. Ada yang diam saja, ada yang manggut – manggut, ada juga yang dansa kegirangan. Diam bukan karena tidak suka dengan musiknya,namun karena mereka serius mendengarkan musik sambil mengamati alat aneh apa saja yang Bottlesmoker mainkan. Mulai dari Game Boy Advanced, Bell, sampai Synth dimainkan secara bersamaan.

Tidak terasa hampir set satu jam yang mereka mainkan sudah ada di ujung. Tapi kejutan belum selesai. Kehebohan bisa mereka buat lagi. Sebelum beranjak, mereka mengundang satu penonton untuk maju kedepan dan memainkan salah satu dari semua alat yang mereka bawa. Menurut saya itu ending dari sebuah show yang sangat keren.

Saya rasa acara macam ini boleh dilakukan rutin setiap satu tahun sekali. Konsep acara yang unik dengan band yang asik. Tapi lebih asik lagi kalau misal jalan itu ditutup, jadi benar – benar di “block” sehingga tidak ada kendaraan lagi yang masuk.

 

Pertama kali dipublish di : Gigsplay

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s