Uncategorized

Ono Opo Sih #6 : Teman Lama. Lama Sekali


Masa selepas penggunaan berulang – ulang kemeja putih dan celana biru tua adalah masa yang tidak begitu menyenangkan. Sedikit realita yang terlihat secara jelas, tidak ada lagi main – main seperti yang saya lakukan dahulu : Cebur – ceburan di kolam, mainan anarki bersama teman sekelas, Skateboard sapu, recorder tiup, dan yang paling tidak bisa diterima, teman – teman yang menghilang kemana – mana.

Beruntungnya di malam minggu kali ini, saya bertemu seorang kawan lama saya yang dahulu sempat mencicip kehidupan bebunyian ababil bersama di masa itu. Sebut saja Rudi. Kami yang sudah lama tak bertatap muka langsung berpelukan. Entah kenapa, itu reflek. Bukan ‘romantic hug’ which i never done before (hedeh). Kami berbicara lama sekali untuk level obrolan basa – basi. Selepas kelulusan, dia bersekolah di salah satu sekolah swasta (bisa dibilang agak ‘keras’) di Kota deket” Jogja. Sebuah Curcol keluar dari mulutnya, padahal saya juga ga tanya (apalagi mau tau)

“Aku kalo sekolah disitu juga adanya cari masalah, gi”

“Loh emang kenapa?”

“Semuanya diatur. Ya contoh kecilnya aja deh, bolos makan siang. Taulah kalo misal disana bolos kaya apaan. Hukuman and all that stuffs “

Sampai pagi ini saya masih kurang faham apa tujuanya dia mengeluarkan statement itu.

Atau mungkin ini sebuah ‘sign’ dari Allah kalau saya harus bersyukur karena masa SMA saya tidak terlalu buruk.

Melanjutkan pembicaraan, tentang teman lama yang menghilang. Suddenly, satu nama keluar, seorang sahabat saya dari TK sampai SMP yang tidak berkabar. Pelabuhan terakhirnya ada di kota Jateng bagian Utara, Semarang. Tidak ada komunikasi, termasuk orang tua kami yang dahulu juga berdekatan. Terakhir contact kurang lebih 6 bulan lalu, via FB saya memberikan sebuah playlist ke dia

Lipstik Lipsing – Early Express

If you miss the train I’m on
At least you know that I’m gone
And you can hear the whistle’s blown
A thousand miles away from home

(lagi – lagi, ga nyambung sama ceritanya)

“Bagus nih, nonton ah kalau udah di Semarang. Kok koyo Coldplay yo?“. Ya, memang ada Athmospheric-nya, walau beda jauh. Sahabat saya ini memang polos, tapi dia suka hampir semua jenis musik. Saya kasih ini masuk, kasih itu masuk. Bisa dibilang secara lingkungan, kami berdua beda jauh. Tapi waktu itu kami bisa mengisi satu sama lain. Balance.

Yah, tapi inilah hidup. Masa ini, disaat semuanya terlalu logis, disaat semuanya disetir, tinggal sedikit imajinasi yang tersisa. Semua lupa, semua menguap karena api yang merebus dari bawah. Logis, dan melihat jalur utama. Termakan realita dan siklus kehidupan mediocre : rutinitas, berbatas seolah ada tembok tinggi tak tertembuskan. Harus dan harus, namun tidak haus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s