Uncategorized

Mengapa Almamater Kurang Penting Bagi Saya?


Saya masih ingat ketika pertama kali di ospek di SMA harus mengafal mars sekolah, dibentak karena tidak hafal, dan mentaati peraturan yang ada. Di akhir ospek, panitia ospek berkata “Kami lakukan ini buat kalian semua! Tau gak?”. mereka tunduk dan melakukan push up masal. Semua berkata “Duh jangan mbak”, ada yang nangis, sedih dll. Dalam bisikan kecil, saya hanya berkata, “Nuwun yo le, haha” (Terima kasih ya nak, haha).

Pasca ospek, rekan-rekan saya kekeuh bahwa ospek membuat mereka semakin solid dan akrab. Menambah jiwa gotong royong dan semangat sekolah. Membumbungkan tinggi nama dan citra sekolah yang berdampak kepada bangsa dan negara (katanya). Maklum, sekolah saya suka ‘membumbung setinggi-tingginya seperti burung’.

Apakah cara tersebut dapat membuat saya hidup sebagaimana saya mestinya? Tidak sama sekali

Walaupun band jelata saya terlahir di SMA, namun yang terjadi malah kontra dengan ideologi sekolah dan siswa di dalamnya, bahkan juga kontra dengan perguruan tinggi. Dukungan nyata dari institusi inipun tidak ada, secara materi, moral maupun edukasi.

Karena hal diatas, saya akan sedikit cerita mengapa urusan band harus dipisah dengan urusan institusi yang kita masuki.

————————————————————

Story 1:

Kejadian ini merupakan kejadian pertama yang membuat saya pikir almamater sucks, dan juga membuat saya sadar akan pentingnya list rider dan MoU.

Tahun 2011 pasca kami rilis EP, ketika saya baru saja lulus SMA, dedek-dedek kelas di SMA saya membuat pensi dan mengundang band jelata saya sebagai salah satu pengisi. Tanpa kontrak, kami tepat waktu menghadiri ceksound, kami 2 jam lebih awal datang ke venue untuk melihat potensi makhluk-makhluk muda.

Tiba-tiba ada yang menghampiri saya dan berkata, “Mas mau gak jadi juri kompetisi band? Karena Pak… (salah satu guru) belum datang”. Memang selain penampil utama juga ada kompetisi band internal. Saya bilang “Oke, masih selo kok”, waktu itu dengan rekan band saya. Saya masih ga masalah karena memang dengan niatan tulus membantu

Selang satu jam pasca menjadi juri kami naik ke stage. Sebelumnya ada arahan dari panitia bahwa kami bisa membawakan 4 lagu. Belum sampai lagu ke-3, perform kami di cut karena terlalu lama. What? kami cuma 4 menit per-lagu and we’re not even a post rock band!. Then i said “Okay, whatever.”.

Jauh sebelum acara kami bilang kalau kami butuh satu transport untuk memulangkan angkut alat-alat band. Kami minta transport tersebut standby setelah kami selesai perform. Namun yang terjadi adalah transport alat tidak jelas. Saya beri kelonggaran hingga jam 8 malam. Akhirnya baru jam 11.30 pm datang ke venue.

Adakah hal yang terjadi diantara jam 08.00-11.30? Ada. Saya marah-marah ke panitia (which adik kelas saya) dengan kata-kata, “Asu koe, bajingan!”, saya lempar kursi dan menginjak-injak sampai hancur, pintu engsel saya rusak dan tentunya dalam hati masih sumpah serapah. Bahkan saat saya nulis ini, saya masih mau kata-katain itu ke semua panitia.

Story 2:

Suatu hari teman saya Tono secara tidak sengaja menghampiri saya di meja burjo dekat area kos-kosan kampus mahal di Jogja. Ia bercerita tentang acara yang akan dibuatnya dengan himpunan mahasiswa jurusannya. Acara ini selain dananya cukup oke dan konsep bagus, guest star cukup menarik massa. Secara finansial, batin dan spotlight bagus buat band jelata saya.  “Kalau kamu (band saya) dengan anak-anak lain (beberapa band lain) xx juta cukup kan?”, katanya dengan semangat menggebu-gebu. Sebagai wakil band dan teman Tono yang baik hati, sayapun juga memberikan jasa konsultasi gratis mengenai acaranya, dengan harapan band jelata saya dengan band teman lain ikut main.

Setulus apapun kamu memberikan konsultasi, pada akhirnya buntung juga. Karena tidak ada konfirmasi, sayapun menghubungi dia. “Piye sido ra?” (Gimana? jadi gak?), tanya saya. “Wah sorry, dana mepet.”. Afterwards, dia menjauh dari saya dan sayapun sedikit tidak peduli.

Tono juga “satu almamater” dengan saya.

————————————————————

Momen inilah yang membuat saya tidak mau main Gratis di SMA saya, SMA lain, maupun Institusi pendidikan, swasta, pemerintah apapun itu. Ketika kamu disuruh membawakan lagu yang diciptakan secara tidak mudah, disuruh menjadi juri dengan imbalan hanya transport alat dan itu telat, dan gak dibayar karena atas nama almamater? Lalu apa fungsi almamater? Apalah persaudaraan ketika kamu tidak ada omongan yang melegakan hati? Tanpa konfirmasi langung bilang no?

Ini bukan masalah ‘teman satu sekolah’, seperjuangan dan senioritas. Ini norma, tata krama dan professionalisme. Toh setelah di ospek dan lulus mereka juga ga akrab, makin jauh dan makin sibuk, sama seperti saya.

Lantas mengapa band jelata saya harus dibayar? Sekiranya mas-mas FSTVLST sudah menjelaskan pada tautan ini.

Saya selalu bilang kepada rekan-rekan bahwa band jelata saya adalah band santai, seneng-seneng aja, ga perlu diambil pusing. “Kok santai dan buat seneng-seneng kalian harus dibayar baru main?”, kata teman saya. Selama 5 tahun bergelut, band jelata saya dapat menghasilkan nominal dana yang tak terduga, dan selama 5 tahun itu saya sama tidak pernah meraup dana tersebut untuk kepentingan pribadi. Dana tersebut kami alokasikan ke alat-alat baru, maintenance alat lama, rekan-rekan crew dan sound engineer yang pernah bekerja dengan band jelata ini. Terutama alat instrumen dan perangkat lain, karena kami (dan saya yakin band lain) menghabiskan puluhan hingga ratusan juta untuk itu. Walaupun pernyataan itu tidak abadi, but that’s how we get fun.

Ini berlaku untuk event institusi, beda perlakuannya sama komunitas non-akademik.

Ketika ada himpunan mahasiswa membuat acara, entah ticketing maupun non-ticketing, profitable maupun charity, secara teknis mereka memiliki tujuan utama : menaikkan citra institusi tersebut. Kami juga punya tujuan : untuk bersenang-senang lagi dan lagi. Sehingga ketika ada teman yang minta kami main gratis di acara institusi, saya selalu menjawab, “Tulis namamu di poster publikasi, contoh : ‘Tono Martono Mempersembahkan Charity Concert’, tanpa ada embel-embel UGM (ups… kesebut), tanpa tiket. Kami akan datang secara sukarela.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s