Uncategorized

Alat Rumit Answer Sheet

-Tulisan ini saya tulis beberapa bulan yang lalu dengan sedikit tambahan dan revisi. Semoga menikmati-

Tidak terhitung lamanya sejak saya posting terakhir kali di blog ini. Bukan hanya karena malas menulis, akan tetapi juga karena sedang berfokus hal – hal lain dan tulisan lain selain di blog ini. Saya baru saja menggarap konten website di http://www.pelemukulele.com/ walau baru 80%. Alasan lain juga adanya rasa tidak ingin pamer. (untuk sementara website pelem ukulele sedang dalam tahap renovasi.)

Jika dirasakan kembali, tingkat tidak ingin pamer tersebut terlalu tinggi, sehingga saya harus pamer sedikit walau tidak berniat untuk pamer. Sebelum pamer dilarang, kenapa tidak pamer? Untuk melepaskan vakansi dengan bentuk tidak pamer, saya akan mencoba mengisi ruang verbal, visual dan audio anda dengan membicarakan peralatan live perform yang (maunya sih bisa) saya gunakan bersama Answer Sheet di setiap stage. Para musisi dan event organizer pun tahu kalau kondisi stage beda – beda satu sama lain.

Bagi professional konfigurasi ini tidak terlalu rumit, tapi saya hanya ingin menunjukkan kalau ada chain effects yang tidak semudah itu untuk memainkan musik akustik (dan pastinya ada yang lebih rumit).

1. Harders Solid Acacia Tenor Ukulele by Pelem Ukulele

Pelem Ukulele Harders Tenor Solid Acacia

Inilah senjata pamungkas saya. Ukulele ini selesai dibuat sejak awal November 2012 hingga Maret 2013 oleh saya dan banyak bantuan Mas Fadil Firdaus di Pelem Ukulele. Kami berdua mengerjakan ukulele ini dengan tidak terburu – buru, seperti konsep ukulele — tenang, damai, mengalir dan menyenangkan. Harapannya nanti ukulele memiliki karakter dan appearance yang sesuai kami berdua inginkan.

Tenor Ukulele ini dibuat dengan bahan kayu solid flame curly acacia (akasia) lokal, diambil dari daerah Bantul, Jogja. Memiliki 18″ scale length, finish tung oil, mahogany neck, rosewood fretboard, nut, bridge dan saddle, dan dilengkapi dengan active pickup Guitar Fuel.

Saya suka sekali sound kayu akasia tua ini. Suaranya cenderung warm dan tidak terlalu keras dibanding solid wood lain. Sebagai informasi, ukulele hawaii dengan kayu Koa (sejenis akasia) termasuk ukulele eksotis, dan solid wood ukulele ( atau alat musik lain) cenderung tidak akan sekeras laminate wood, namun memiliki karakter suara dan clarity yang jelas. Satu ciri khas Pelem Ukulele yang lain adalah penggunaan rosewood pada Nut dan Bridge.

2. Artec A/ B Switch Box

213239

Pedal channel switcher ini biasanya digunakan banyak gitaris untuk mengganti channel clean dan channel kasar dengan 2 ampli/chain efek yang berbeda. Dengan lineup baru Answer Sheet saya menerapkan live looping dengan efek looper pada set yang kami mainkan. Switch box ini saya gunakan untuk memisahkan 2 channel dari ukulele: 1 untuk looper, 1 untuk ukulele, sehingga kedua sinyal ini dapat di mix lebih karena berada pada channel yang berbeda.

Produk milik Artec cenderung murah dan cukup kuat. Berhubung hanya switcher yang tidak mengubah karakter suara dan kebetulan waktu itu dompet lagi mepet, saya beli ini seharga Rp215.000,-. Pada awalnya efek jika di injak akan memindah channel output dari (lampu merah) ke B (lampu hijau) atau sebaliknya, namun pedal yang saya miliki ini sudah di modifikasi oleh Mas Ricky dari Rick’s Custom Hotbox menjadi : lampu merah Channel A, lampu hijau channel A dan B. Ini diubah agar ketika saya memainkan ukulele untuk looping, channel utama saya tetap menyala.

3. Line 6 DL4

71V0PEL79nL._SL1401_

Pedal legendaris dari Line 6 yang memiliki banyak alias seperti The Green Machine, Green Box, Super Green dll. Whatever you name in pedal ini baik untuk Delay maupun Looper. Dalam chain effects ini saya DL4 gunakan sebagai looper. DL4 memiliki fitur 15 jenis delay, 3 bank untuk delay, looping 14 detik dan 28 detik (1/2 tempo mode), reverse, overdub, dan play once. Tersedia 2 input dan 2 output (keduanya L-R), 1 line Expression Pedal dan dijalankan dengan AC adaptor atau

Loop yang saya mainkan kebanyakan berisi perkusi dan riffs. Perkusi terutama kick memiliki setting equalizer yang berbeda dengan ukulele, inilah alasan mengapa channel ukulele dengan perkusi saya split.

Sebenarnya akan jauh lebih aman tanpa switcher karena lebih mudah sehingga minim trouble. Lalu apa solusinya? Ganti looper. Line 6 punya pedal khusus looping bernama JM4 yang dapat split instrument signal dan loop signal (stereo). Sepertinya Boss RC-300 juga sudah bisa. Hanya masalah harga… hhehhee

4. Ultimate Delay by Rick’s Custom Hotbox

IMG_20131020_170451

Ini pedal delay yang saya gunakan di channel ukulele. Standar seperti pedal delay pada umumnya, perbedaanya adalah terdapat fitur booster dan tidak ada feedback jika knob repeat di set tinggi. Sepertinya agak aneh jika main acoustic tapi pakai feedback delay, walau keren. Booster jarang saya pakai, tapi ketika chain effect saya bertambah, knob ini akan berguna untuk menaikan power.

Saya kenal mas Ricky atas rekomendasi banyak teman. Selain berbagai macam stompbox, ia juga produksi amplier. Silakan di cek FB nya disini

5. Fender Acoustasonic Junior Acoustic Amplifier

IMG_20130826_144656

Orang bilang rejeki dan jodoh itu tidak kemana – mana. Berhari – hari saya mencari amplifier akustik dengan dihadapkan berbagai pilihan bagus seperti VOX dengan seri AGA (70,150) dan Marshall seri AS (AS50D & AS 100D), pada akhirnya jatuhlah ke Fender Acoustasonic Junior ini. Fender memiliki beberapa jenis amplifier baru seri Acoustasonic seperti Acoustasonic 150, 100, 90, dan 15, dan produk discontinued seperti Acoustasonic 30, Acoustasonic Junior DSP dan Acoustasonic Junior.

Acoustasonic Junior ini memiliki 2 output speaker 40w (total 80w), 2 channel untuk mic dan mic/instrument, fitur string dynamics untuk mengontrol sinyal hi berlebihan, efek chorus dan reverb, send return, footswitch untuk chorus dan channel, dan instrument insert.

Beruntunglah saya dapat versi Acoustasonic Junior saja, tidak menggunakan DSP dan masih Made In Mexico. DSP adalah singkatan dari Digital Signal Processing dimana signal dari input diproses melalui efek digital. Digital bukan berarti jelek, akan tetapi saya lebih suka jika efek pada amplifier terdengar se-natural mungkin (in other word: vintage).

Overall suaranya bagus dan sangat berkarakter ‘Fender’. Chorus dan reverb pada ampli ini memuaskan saya. Reverb ini berjenis spring dan tidak terlalu wet. Saya sudah compare dengan Marshall AS100D dan Acoustasonic masih cocok untuk saya. Sayangnya ampli ini belum memiliki output sehingga konfigurasi di ampli tidak akan sama dengan yang keluar di sound luar mengingat sound luar akan lebih menggunakan signal dari direct input.

Konfirgurasi

Answer Sheet Setup

rumit kan? ya rumit dong hhehhe

Settingan ini akan lebih optimal lagi jika ada amplifier untuk looper. Bagi saya sound looper di dalam panggung harus terdengar. Looper ini akan berpengaruh pada lagu, jika saya memasukan ketukan tidak sesuai dengan tempo yang sudah di loop sebelumnya, habislah sudah seluruh lagu.

Settingan efek mirip seperti ini sempat saya gunakan pada saat Answer Sheet main di Bandung beberapa waktu lalu walau tidak sesuai dengan konfigurasi diatas (beda ampli, tidak pakai send return etc).

Seperti itulah sekelumit ukulele rempong saya. Mohon masukan dan pencerahan bagi kawan-kawan yang tertarik untuk membahas konfigurasi ini. Salam!

Answer Sheet : http://www.answersheet.co.nr/

Advertisements
Uncategorized

[mixtape] Sendiri Senarku Sepi

foto diambil di pinggir kali code

unduh

****

Tracklist

  1. Buckethead – Gateless Gate
  2. Patrick Park – The Long Night
  3. City And Colour – What Makes A Man?
  4. Glen Hansard – Leave
  5. Cat Power – Sea Of Love
  6. Bread – Diary
  7. Rana Gemilang – Cliché
  8. Allo Darlin’ – Tallulah
  9. Jens Lekman – Another Sweet Summer’s Night on Hammer Hill
  10. Alex Turner – It’s Hard To Get Around The Wind
  11. Danielle Ate The Sandwich – Soldier
  12. Nevershoutnever! – On The Brightside
  13. Zee Avi – Monte
  14. Lights – February Air
  15. Toh Kay – Forty Days (Acoustic)
  16. John Frusciante – Song To Sing When I’m Lonely (Acoustic)
  17. hummingbert – Blackbird
  18. Benjamin Francis Leftwich – Pictures

 

Uncategorized

I Found These 2005 – 2012

Tracklist

  1. Amanda Palmer – Idioteque
  2. Bemuzic – Somewhere In The Blue
  3. Billie The Vision & The Dancers – I Miss You
  4. The Contortionist – Flourish
  5. Danielle Ate The Sandwich – Where The Good Ones Go
  6. Daydream Radio – Forgive Last Night
  7. Deer Leap – To Moscow And Quickly
  8. Dent May – College Town Boy
  9. The Dodos – Fools
  10. The Evens – Around The Corner
  11. Jeff Bridges – Fallin’ & Flyin’
  12. Jenny & Tyler – Faint Not
  13. Jukebox The Ghost – Schizophrenia
  14. Kishi Bashi – Manchester
  15. Local Natives – Sun Hands
  16. Maritime – It’s Casual
  17. The Monday Mornings – All Rise
  18. The Reign of Kindo – Thrill Of The Fall
  19. Team Sleep – Ever (Foreign Flag)
  20. Toh Kay – I’ve Set Sail
  21. The Tunics – Wit & Acid Tongue
  22. Wild Orchid Children – Tree Of Knowledge
  23. The World Is A Beautiful Place & I’m No Longer Afraid To Die – I Will Be Okay. Everything.

DOWNLOAD HERE 

Uncategorized

Answer Sheet Virtual Mini Tour 2012

Watch Them All Here : http://www.youtube.com/playlist?list=PL832131F3EC0EE1EA

Extra Credits

Here they are, some vids of our first ‘Virtual Mini Tour’. Ini sebuah pengalaman baru bagi kita ber-3: melakukan live session di sebuah ruangan yang cukup terbuka dengan penonton dari kawan – kawan di negeri seberang, Malaysia Ukulele Group. Walau live streaming cukup terhambat dengan koneksi internet yang kalang kabut dan kesalahan teknis pada sound akhir di video (microphone tidak merekam), saya cukup puas dengan apa yang kita kerjakan. Di tour ini, Rebet dan Abi jauh lebih banyak ambil andil di bagian teknis daripada saya, yang hanya menyumbang ide awal. Sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka.

Perlu diketahui bahwa pada saat pengerjaan proyek performance 15 menit ini, kami semua dalam kondisi yang tidak sehat. Rebet dan Abi flu, sedangkan saya flu beserta sakit kepala, sakit tenggorokan, serta impaksi pada gigi geraham yang tidak kunjung sembuh selama 2 bulan. Saya datang terlambat untuk setting alat gara – gara dapat antrian dokter ke 52, that’s why i feel that guilty walaupun Rebet dan Abi tidak mempermasalahkan hal itu. Dan sesungguhnya saya sering telat latihan dan tidak punya waktu banyak, i’m sorry for that too.

Jika dijabarkan dengan bahasa yang mudah, kami bermain seperti live session biasa dengan alat – alat dokumentasi se-adanya sembari live streaming via Skype ke Malaysia. Alatnya mulai dari webcam onboard laptop, sampai handycam. Alhasil seperti yang diatas. Untuk sounding sendiri, kami menggunakan 1 Samson CO1U USB Condenser Microphone untuk Streaming, dan 1 Handy Audio Recorder untuk sound di tahap post-production nanti. Tapi karena ada kesalahan teknis pada PC, maka kami harus merelakan Audio Recorder tumbang. Akhirnya pada tahap post-production video – video diatas menggunakan Built-in Mic dari Handycam. Sangat disayangkan, tapi apa boleh buat.

Lalu pada malam harinya dilanjutkan dengan editing video yang saya rasa tidak terlalu rumit untuk project se-simple ini. Beberapa trim,  fade-in, fade-out,  beres. Walau ada beban yang cukup menggoyahkan mental dengan penyakit impaksi yang tadinya belum teridentifikasi, saya dan Rebet mengerjakanya dengan senang hati, riang gembira, penuh energi, dan rajin menabung (agak #pret sih).  Sangat menyenangkan ketika edit video serta rendering yang tidak memakan waktu cukup lama dengan PC yang mumpuni, ncen syurgoo.

Mungkin seperti itulah sedikit deskripsi tentang project ini. Selamat menikmati video dari kami. Aloha and Mahalo.

______________________________________________________________________

Catatan sikil

Terima kasih kepada @MGkarebet dan @beeancuks. Saya rasa kita tidak perlu berembel-embel duo lagi. Dan terima kasih juga kepada @irenesanita, calon drg. yang telah berhasil dan menyempatkan waktu menjelaskan salah satu problematika remaja-mau-tua dalam Dunia Gigi yang bernama Impaksi kepada saya. Syukron, hati – hati di jalan dan selamat ber-umroh.

Uncategorized

Sedikit Tentang The Frankenstone

Pre-Tour The Frankenstone

#np The Frankenstone “Dont be sad, Dont be gloom, The Frankenstone is ugly” [2009]

Kata ‘bangga’ sejauh ini tidak pernah ada di kamus saya. Karena memang saya tidak suka bangga. Tetapi melihat poster pre-tour Asia Tenggara salah satu band lokal yang menemani saya di depan laptop di era awal – awal belajar ukulele adalah sesuatu yang membuat saya berbunga – bunga dan patut dibanggakan. Saya memang belum pernah cover ataupun memainkan lagu mereka, tapi secara tidak sengaja The Frankenstone-lah yang memacu saya untuk membuat rilisan.

Kurang lebih sudah 2,5 tahun album pertama mereka rilis. Waktu itu saya yang masih menjadi user setia bus kota secara tidak sengaja menemukan flyer aneh. Warna mereh nyeter dengan gambar lelaki gendut (atau anak kecil ya? hehe) berisi promo link download album mereka. “Serius ini download gratis?”, pikir saya yang masih polos. Album ini direlease oleh net label Jogja bernama Yes No Wave. Download dan mendengarkanya secara berulang – ulang. Saya suka Punk Rock macam ini yang (kala itu saya masih) susah dicari.

Dalam kalimat singkat, The Frankenstone dan Yes No Wave mengenalkan saya sama dunia netlabel

Setelah mengetahui hal itu, tiba – tiba saya (yang berstatus solo) jadi pengen rilis juga karena ada beberapa lagu nganggur dan nylamur. Langsung berpikir mau rilis di Yes No Wave. Answer Sheet? Masih imajiner, hanya bermain – main di lingkup yang sumpek dikelilingi bau akademis. Akhirnya lagu – lagu ini kami kerjakan berdua, selesai rekam dan siap rilis tahun depan (walaupun sudah bisa free download). Tapi akhirnya pada tahun 2010 akhir, Tan dari Sea Indie menarik kami ke project Sea Indie Singles. Batal deh #syedihdeh

Yeah, cukup soal itu haha. Pre-Tour mereka akan diisi band yang semuanya favourite saya. Belkastrelka, Lampukota, Tripping Junkie dan Energy Nuclear. Untuk band terakhir saya kaget, wow. Saya pernah nonton mereka sekali saat saya juga satu gig dengan mereka. Saya masih mainan metal,hehe. Mereka dulu cuma ber-2 dan main Proggresive. What?!?!

Good luck, The Frankenstone

Uncategorized

Summer is Over

Sabtu kemarin saya memang ngencrung di Gunung, lebih tepatnya di Villa Van Rezink (Resing, Resink? atau apa? Banyak versi typo nya). Bukan sama Answer Sheet, tapi sama #MANAVA. Oh ini project bukan sembarang project, jek. Satu Gitar, satu Ukulele dan tiga lagi lokal nge-heits yang syahdu nan asoy. Salah satunya Suvenir Abad Batu oleh Tripping Junkie, favourite ane.

Selain Manava tentunya ada band – band yang (jauh lebih) renyah : Musim Penghujan, Untitled Joy, Summer in Vienna, Kaveh Kannes, Lazy Room, Kapsul, Angina, Sri Plecit, Perfect Blondies, Lampukota, Talking Coasty dan Strawberry’s Pop. Di acara ini kedatangan juga 2 band dari Bandung yaitu Taman Kota & Pagi Mentari

This post is gonna nyenggol lil bit review tentang 4 band yang saya anggap asik malam itu. Sebenernya ga hanya 4, cuma kebetulan kamera HP saya cuma bisa menangkap 4 gambar itu (doh). Here we go

Strawberry’s Pop

Strawberry's Pop

Heavy Metal versi Britpop yang sudah menggila sejak tahun 1998. Strawberry’s Pop salah satu dedengkot Common People yang lahir dari era awal – awal CP berdiri. Kemarin kami semua disuguhkan dengan tembang – tembang Blur, Charmless Man, Country House dan yang paling klimaks : Song2. ‘WOOOHOOO!!! WHEN I FEEL HEAVY METAL WOOHHOOO!!’. Kira – kira seperti itu bunyinya. Tak lupa lagu orisinil buatan mereka yang tak kalah seru. Sayangnya saya lupa judulnya. *deshh*

Talking Coasty

Talking Coasty

Sudah 3 kali, bahkan mungkin 4 kali saya nonton Talking Coasty. Tidak bisa dipungkiri kalau mbak dan mas – mas ini mengenalkan saya sama Best Coast, band Surf Pop Amrik yang jadi main influence mereka. Well, since their first gig di acara Kill Your Fuckin’ Idol oleh Sangkar Burung (CMIIW kalo misal ini bukan 1st gig mereka ya) sampai Summer Is Over kemarin, bukan maksud sok-guru tapi pandangan awam saya bilang : mereka Improve-A-Lot.

Sebelum Sangkar Burung memang ada desas – desus ‘Tiruan Best Coast’ dan bakal ada revival Surf Act di Jogja pasca Southern Beach Terror yang membawa Surf versi rocknya. Saya datang ke Gigs itu dengan referensi Surf Rock ala Dick Dale, saya cuma batin “Apa ini surf? Err.. okay”. Mereka bawa lagu – lagu Best Coast waktu itu, saya belum pernah denger, pulang dari gigs saya download Best Coast : “Oke, ini agak beda sama yang tadi”. Istilah itu benar – benar sirna ketika di Summer is Over, saya bilang “OH SHIT, THIS IS A FUCKIN SURF”. Yes, mesin ini bakal menjadi besar someday. Saya tidak bisa dan tidak boleh berharap, hanya bisa yakin. Lagu orisinil mereka juga seru, coba dengarkan di Soundcloudnyaah.

Pagi Mentari

Pagi Mentari

Inilah Pagi Mentari. Sesuai dengan namanya, musik mereka dapat membawa susasana seperti saat kita semangat menerjang pagi untuk masa depan yang cerah. Sayangnya sound kemarin mungkin kurang mendukung, seperti bagian lead gitar yang settinganya kurang klob di ampli. Maaf ya mas kemarin knob ampli saya ubah” malah drivenya terlalu gede, ga tembus soalnya hehehe *peace*. I won’t say much about them karena saya memang ga begitu tahu hehe. Yang jelas kalian bisa langsung denger dan unduh lagu mereka di Page FB mereka here

Tamankota

Tamankota

Jangly Act Bandung ini memang impressive. Secara pandangan awam saya langsung suka. Terlebih lagi karena double tambourine yang cocok dimainkan oleh sang vokalis dan satu pemain additional yang di khususkan untuk menghandle tambourine ke-2 sambil berdansa naik turun. Melihat drummernya yang bertopi, saya langsung teringat Reni dari The Stone Roses. Yup, memang hampir semua Indie Pop Act menjadikan The Stone Roses sebagai influence. Anda juga bisa mendengarkanya disini

_______________

Kira – kira seperti itulah Summer is Over dari Common People YK kemarin. Saya punya pengalaman dan teman baru. Saya belum pernah punya ‘kawan banyak’ yang terlepas dari bau akademis sebelumnya so, thank you.

 

Common People. Courtesy of Rendenk (Randy Surya Mukti)

 

———–

Foto – foto lain bisa dilihat di :

IRockumentary | irockumentary.com/concert/summer-is-over-at-villa-nan-renzing-kaliurang-yogyakarta/

Rendenk | http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2646794648185.2123539.1205240996&type=1

Uncategorized

Alma Matters

So : the choice I have made 
May seem strange to you 
But who asked you, anyway ? 
It’s my life to wreck 
My own way 

You see : to someone, somewhere, oh yeah
Alma matters 
In mind, body and soul 
In part, and in whole 
Because to someone, somewhere, oh yeah 
Alma matters 
In mind, body and soul 
In part, and in whole 

So the life I have made 
May seem wrong to you 
But, I’ve never been surer 
It’s my life to ruin 
My own way 

Akibat cuma download album The Best, saya ga tahu lagunya Morrissey yang  ini. Ini favourite saya!